Dunia Islam

Mengenalkan Keagungan Rasulullah di Swedia

Attention: open in a new window. PDFPrintE-mail

Written by Administrator Thursday, 23 July 2009 10:47

Tak banyak warga Swedia yang mengenal sosok Rasulullah SAW di Swedia. Untuk mengenalkan keagungan dan kemuliaan Nabi Muhammad, umat Islam di Uppsala, sebuah kota di Swedia bagian tengah, terletak 70 kilometer dari utara Stockholm, ibu kota Swedia, menggelar Hari Rasulullah SAW.

Uppsala merupakan kota terbesar keempat di Swedia dengan jumlah penduduk 130 ribu jiwa. Di kota ini, umat Muslim menggelar sebuah acara yang mengusung tema ''Muhammad, Utusan Allah''.  Hari Rasulullah itu digelar untuk menepis dan meluruskan kesalahpahaman publik Swedia tentang sosok manusia agung pembawa ajaran Islam.

"Kami mempersembahkan salah seorang manusia yang paling terkemuka di dunia,'' ungkap Ibrahim Blicksjo, seorang juru bicara panitia Hari Rasulullah, seperti dikutip IslamOnline.net. ''Mengapa? Karena kami ingin menyebarkan ajaran yang dibawa Rasulullah kepada semua orang di sini, dan memberi mereka kesempatan untuk mengenal beliau.''

Acara Hari Rasulullah itu diprakarsai oleh International Association of Science and Culture dan digelar di Stora Torget, salah satu kawasan penting di pusat Kota Uppsala. Muslim di kota itu mencoba mengenalkan sosok junjungan umat Islam itu melalui kisah hidupnya, ajarannya, serta teladan dan kasih sayangnya.

"Kami akan menampilkan sejumlah pembicara yang akan menjelaskan sosok Rasulullah SAW, serta ajaran yang dibawanya bagi umat manusia,'' tutur  Blicksjo. Menurut dia, umat Muslim di Kota Uppsalla ingin menunjukkan kepada publik betapa mulia dan sempurnanya akhlak Rasulullah SAW.

Menurut dia, yang paling penting dari acara itu adalah menjelaskan kepada publik ajaran yang dibawa Nabi Muhammad SAW. ''Kami ingin menunjukkan kepada mereka, mengapa kami sangat mencintai Rasulullah SAW, betapa beliau adalah sosok manusia yang sangat luar biasa.''

Setiap tamu, pengunjung dan media akan disediakan literatur gratis tentang kehidupan Rasulullah SAW, yang penuh inspirasi dan bagaimana beliau dapat mengubah sejarah kehidupan manusia di muka bumi.

''Kami memiliki 10 ribu brosur dan kami juga memiliki buku tentang Nabi Muhammad dengan lebih dari 20 bahasa,'' tutur Blicksjo.

Tak cuma itu, para pengunjung juga memiliki kesempatan untuk mengajukan pertanyaan secara langsung kepada tokoh-tokoh Muslim tentang sosok manusia agung yang menyampaikan ajaran Islam. Menurutnya, acara seperti ini baru pertama kali digelar di Swedia.

Blicksjo menambahkan, acara seperti itu sangat diperlukan untuk mematahkan pandangan buruk yang disebarkan media-media Barat tentang sosok Nabi Muhammad.

''Kebanyakan orang di sini tak memiliki pengetahuan dasar yang benar tentang sosok Rasulullah SAW dan ajarannya,'' imbuhnya.

''Mereka benar-benar tak mengenal Nabi Muhammad SAW,'' tutur Blicksjo.

Umumnya, kata dia, masyarakat di Swedia hanya mengenal Islam dari apa yang mereka baca, lihat, dan dengar dari media. ''Kami ingin menyampaikan citra Rasulullah SAW secara benar kepada mereka.''

Pada 2007, surat kabar Nerikes Allehanda mempublikasikan sebuah kartun karya kartunis Swedia, yang menggambarkan Nabi Muhammad SAW sebagai seekor anjing. Media-media di negara itu dengan bebas menghina dan menistakan Rasulullah SAW dan Islam atas nama kebebasan berekspresi.

Menteri Kehakiman Swedia, Goeran Lambertz, menilai kartun anti-Nabi itu bukan merupakan hasutan dan kebencian rasial. Fakta inilah yang mendorong umat Muslim di negara itu untuk memperkenalkan sosok Rasulullah SAW yang sebenarnya.

Saat ini, jumlah umat Muslim di Swedia mencapai 400 ribu orang. Blicksjo berharap, acara Hari Rasulullah dapat meningkatkan pemahaman non-Muslim tentang sosok Rasulullah SAW, yang kerap diserang dan dinistakan media-media di negara itu.

Meski terus diserang dan dihujat, agama Islam terus dilirik masyarakat Swedia. Tak kurang dari 15 ribu penduduk asli swedia telah masuk Islam, dan umur mereka antara 20 sampai 40 tahun. Mereka berlomba masuk Islam,  setelah surat kabar di negara itu melecehkan Rasulullah SAW lewat kartun. heri ruslan (Sumber: Republika.co.id, by Republika Newsroom,  22 Juli 2009).
 

Imam dan Rabi Eropa Kunjungi AS untuk Dialog

Attention: open in a new window. PDFPrintE-mail

Written by Administrator Thursday, 23 July 2009 10:44

Andre Carson, salah satu Muslim, anggota Konggres AS, memberi sambutan kepada kelompok tur terdiri para imam dan rabi dari EropaWASHINGTON, DC  — Kelompok imam dan rabi dari Eropa orang melakukan tur di pusat antar-keyakinan, Amerika Serikat, Senin, (20/7). Mereka belajar kesuksesan Amerika, dalam penguatan dialog antar-agama dan hubungan Muslim-Yahudi, demikian menurut laporan Washington Times, Senin.

"Kesuksesan kami di Amerika memberi kami percaya diri dan keyakinan untuk menjangkau Eropa," ujar direktur nasional aliansi komunitas dan antar-keyakinan Sayiid Mohammad Syeed,di Masyarakat Islam Amerika Utara (ISNA). Ia adalah salah satu dari tiga tokoh penyambut dan pembicara dalam tur tersebut.

Kelompok berjumlah 28 imam dan rabi dari 10 negara Eropa itu akan tinggal di AS selama lima hari. Itu merupakan hal pertama yang melibatkan pemuka Muslim dan Yahudi dari luar AS. "Kita membutuhkan mereka untuk menyaksikan langsung apa yang kami lakukan. Saya sendiri telah bergerak di dalam bidang ini hampir seluruh hidup saya," ujar Sayiid.

Ide kunjungan tersebut terpicu setelah tumbuh anti-Semit yang makin kuat di kalangan Muslim Inggris, Perancis dan negara lain Eropa. Hal itu diakui oleh Kepala Kongres Yahudi Dunia Wilayah Amerika, Rabi Marc Schneier.

"Kita ingin membantu menguatkan hubungan dan dialog didunia Islam yang mencerminkan suara moderat," ujar Rabi Marc yang juga menjadi presiden Yayasan Pemahaman Etnik (FFEU) berbasis di New York. "Sekaligus membantu mereka mengambil kembali agama dari para kader ekstrimis dan para fanatik Islam yang selama ini menguasai citra agama," imbuhnya.

"Tantangan terbesar dialog antar-keyakinan abad ke-21 adalah menemukan jalan mempersempit jurang antara Muslim dan Yahudi di seluruh dunia," kata Rabi Marc. "Landasan, yang saya bangun bersama dengan rekan Muslim 20 tahun lalu, dikenal sebagai hasil kerja antara Yahudi dan Kulit Hitam," ujarnya.

Para rabi dan imam memulai kunjungan pada Senin lalu di New York. Di kota itu mereka bertemu Imam Mohammad Shamsi Ali, kepala Pusat Kebudayaan Islam sekaligus imam masjid New York, yang akan menuturkan pengalamannya memimpin masjid terbesar di New York.

Dalam tur dua hari di New York, para imam dan rabi Eropa akan bertemu pula dengan orang-orang berpengaruh di bidang politik, sipil dan pemuka agama lain. PBB bertindak selaku tuan rumah dalam acara hari kedua.

Kemudian mereka akan menuju Washington, mengunjungi Museum Holocaust AS. Pemimpin Kongregasi Agudas Achim di Aleksandria, Rabi Jack Moline dan imam dari Masyarakat Muslim Kawasan Dulles, Mohammad Magid, akan menjadi pembicara dalam hubungan antar-keyakinan pasca-holocaust.

Lalu siangnya,  mereka akan diterima oleh anggota Konggres AS dari kalangan Muslim, Keith Ellison dan Andre Carson. Masih di Washington, rombongan bakal bertemu pula dengan Kaukus Yahudi Kongresional tak resmi, Jerrold Nadler dan Robert Wexler.

Esok harinya, Kamis (23/7), para imam dan rabi Eropa akan berkunjung ke Gedung Putih untuk bertemu direktur eksekutif Lingkungan Kekerabatan dan Pusat berbasis Keyakinan, Joshua Dubois. Setelah makan siang di Kedutaan Besar Arab Saudi, rombongan dijadwalkan terbang pulang kembali ke negara masing-masing.

Menanggapi acara tersebut, Juru bicara ISNA, Mohamed Elsanous berkomentar, "Para Muslim merasa bangga dapat menyambut mereka dari keyakinan berbeda,". Rupanya dua tahun lalu, ISNA dan FFEU yang telah lama berupaya membangun hubungan Muslim-Yahudi, menggelar pertemuan antara para rabi dan imam di New York. Mereka mengombinasikan kekuatan layanan masyarakat, diumumkan lewat CNN awal 2008 silam, untuk menghapus Islamofobia dan anti-Semitisme.

Pada akhir November 2008, mereka meminta 50 masjid plus sinagoga di dalam kota-kota penjuru negara dan mendorong mereka menggelar acara saling kunjung dan berpartner di akhir pekan. Acara saling kunjung serupa tahun ini, dijadwalkan pada 13-15 November 2009 mendatang.

Upaya kedua pemuka agama dan acara itulah yang menarik perhatian para imam dan rabi dari daratan Eropa. "Kami menerima telepon dari para pemimpin agama di Inggris, Swedia dan Australia yang juga ingin terlibat dalam acara serupa," tutur Rabi Marc.

Rabi juga menuturkan terjadi peruntuhan tembok tebal dari upaya panjang itu. "Salah satunya kami menerima permintaan maaf dari umat Muslim, setelah Mei lalu, empat Muslim ditahan karena merencanakan pengeboman sinagoga," tutur Rabi.

Namun ia sendiri mengakui kondisi itu tidak terjadi seperti membalik telapak tangan. Sama seperti Sayiid, ia pun menghabiskan hampir seluruh hidupnya untuk membangun hubungan harmonis Muslim-Yahudi. "Membutuhkan waktu 40 tahun, paling tidak sejak saya meninggalkan Mesir," kenang Rabi Marc. (itz) (Sumber: Republika.co.id, by Republika Newsroom,  22 Juli 2009).
 

Kampanye Islam AS Lewat Al Qur'an Gratis

Attention: open in a new window. PDFPrintE-mail

Written by Administrator Friday, 03 July 2009 15:00

IOL, anggota CAIR memberikan Al Qur'an gratisWASHINGTON — Muslim Amerika tengah mendistribusikan ribuan Al Qur'an ke pegawai pemerintahan AS dan pembuat kebijakan di negara tersebut. Itu merupakan bagian dari kampanye luas untuk mengedukasi warga Amerika tentang Islam.

"Mengedukasi para pemimpin negar kita tentang Islam dan Al Qur'an adalah tanggung jawab komunitas Muslim Amerika," ujar Direktur Eksekutif Dewan Hubungan Amerika-Islam (CAIR), Nihad Anwar, dalam sebuah pernyataan. Kampanye "Share The Qur'an" itu termask membagikan 100 ribu Al Qur'an secara cuma-cuma ke pegawai pemerintah lokal, negara bagian, hingga nasional.

Setiap kopi akan diberi panduan pembatas buku bertuliskan ayat yang dikutip oleh Presiden Barack Obama dalam landmark pidatonya terhadap dunia Muslim di Kairo bulan lalu. "Sebagaimana Al Qur'an mengajarkan kita, 'Kenalilah keberadaan Tuhan dan selalulah berkata jujur," kata Obama di depan pemirsanya.

"Al Qur'an berkata pada kita, ' Wahai manusia, Kami telah menciptakan laki-laki dan perempuan, dan Kami telah membuat kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal satu sama lain," Panduan juga termasuk acuan kepada ayat-ayat pada topik seperti hak-hak wanita, keadialn sosial, dan penghormatan kepada keyakinan lain.

Awad mengatakan pidato Obama terhadap dunia Muslim telah memperbarui ketertarikan dalam pemahaman lebih baik terhadap Islam. "Dengan mengutip  ayat Al Qur'an, di Kairo, Presiden Obama membangkitkan lagi minat orang pada tek-teks yang diungkap Islam, seperti penghargaan kehidupan manusia, keadilan dan keberagaman," ujarnya.

CAIR mendesak pula para imam dan pemuka komunitas untuk menggunakan kotbah Jumat dan acara keagamaan lain untuk menggaungkan dukungan bagi kampanye tersebut. "Kami berterimakasih pada para imam atas partisipasinya dalam sukses gerakan ini," ujar Awad

Ia juga mengapresiasi kepemimpinan mereka untuk memperoleh sponsor bagi sedikitknya seratus Al Qur'an dari setiap masjid untuk dikirim ke para pemimpin pembentu opini dan pembuat kebijakan. "Jika setiap orang di dalam komunitas berbagi untuk melakukan ini, tujuan kita membagi seratus ribu Al Qur'an akan tercapai, Insya Allah," kata Awad.

Kampanye baru itu adalah fase kedua dari kampanye sukses CAIR sebelumnya, "Explore the Qur'an" yang bertujuan meningkatkan pemahaman Islam di kalangan Amerika. "Tujuan jangka panjang dari kampanye ini adalah membagikan satu juta Al Qur'an ke tangan-tangan warga Asli Amerika dari berbagai keyakinan dalam sepuluh tahun ke depan," ungkap Awad.

"Ini bukan sebuah upaya untuk mengajak orang lain berpindah agama," kata Awad. "Melainkan bertujuan untuk memberi sumber edukasi bagi mereka yang akan membentuk arah bangsa di masa depan," (iol/itz)---Sumber: Republika.co.id, by Republika Newsroom, Jumat, 03 Juli 2009.
   

Insiden Penembakan di Museum Holocaust Guncang AS dan Israel

Attention: open in a new window. PDFPrintE-mail

Last Updated on Monday, 29 June 2009 13:59 Written by Administrator Monday, 15 June 2009 13:05

Insiden penembakan yang terjadi di Holocaust Memorial Museum, Washington AS hari Rabu siang waktu setempat mendapat perhatian Presiden AS Barack Obama. Obama mennyatakan syok mendengar berita insiden tersebut. Ia juga mengatakan perlunya melawan aksi-aksi bernuansa anti-Semit.

"Saya syok dan sedih dengan insiden penembakan yang terjadi hari ini di Holocaust Memorial Museum. Tindakan keji ini mengingatkan kita untuk tetap waspada terhadap segala sesuatu yang bernuansa anti-Semit dan prasangka buruk dalam semua bentuknya," demikian pernyataan Obama.

Ia juga menyampaikan rasa simpatinya pada penjaga keamanan museum yang menjadi korban aksi penembakan tersebut. Dalam insiden itu, seorang penjaga museum bernama Stephen Tyrone Johns, 39, tewas dalam baku tembak dengan pelaku.
Lelaki berusia 88 tahun bernama James Von Brunn, seorang penganut gerakan supremasi kulit putih, diduga sebagai pelaku penembakan itu. Tapi Kepala Polisi Washington Kathy Lanier menolak menyebut Brunn sebagai tersangka utama dalam insiden tersebut. Brunn, menurut kepolisian, dalam "kondisi yang buruk" setelah mencoba bunuh diri dengan menembak dirinya sendiri usai melakukan aksinya.

Insiden penembakan yang terjadi di siang bolong itu membuat panik para pengunjung musium yang hari itu dipadati oleh ratusan siswa dan turis. "Semua orang berlarian secepat mereka bisa, atau tiarap di lantai. Situasinya kacau balau," kata Maria Hernandez, salah seorang pengunjung museum.

Kepolisian Washington dibantu dengan agen-agen FBI kini sedang menyelidiki insiden tersebut, apakah ada kemungkinan terkait dengan aksi terorisme.

Insiden penembakan di Museum Holocaust di AS juga mengguncang Israel. Menteri Urusan Yahudi Diaspora Israel, Yuli Edelstein menyesalkan insiden tersebut. "Insiden ini menjadi bukti adanya sikap anti-Semit dan penolakan terhadap holocaust. Israel harus menyikapi fenomena ini baik di dalam maupun di luar negeri, baik di media dan di kalangan akademisi. Israel harus harus mengatakan 'tidak!' pada dunia atas insiden-insiden seperti ini," tukas Edelstein.

Museum holocaust Israel 'Yad Vashem Holocaust Memorial' lewat juru bicaranya Iris Rosenberg juga mengungkapkan keprihatinannya. Kecaman juga dilontarkan oleh organisasi Yahudi yang dikenal aktif memburu para anggota Nazi, Simon Wiesenthal Center yang berbasis di Los Angeles. Direkturnya Dr. Efraim Zuroff menyatakan tidak terkejut jika institusi seperti museum holocaust menjadi target serangan oleh kaum gerakan supremasi kulit putih.

"Karena institusi-institusi seperti museum holocaust ini, dianggap sebagai anti-tesis dari ideologi rasial dan sikap anti-semit yang dianut kelompok supremasi kulit putih," kata Dr. Zurrof. (ln/Hrtz/JP/Aby)---(Sumber: www.eramuslim.com, 11/06/2009)
 

Sipir Penjara Inggris Lecehkan Al-Quran

Attention: open in a new window. PDFPrintE-mail

Last Updated on Monday, 29 June 2009 14:01 Written by Administrator Monday, 15 June 2009 11:46

Operasi penangkapan sejumlah mahasiswa Muslim oleh polisi Inggris beberapa waktu lalu, berbuntut panjang. Salah satu mahasiswa yang ditangkap dan kemudian dibebaskan, Tariq Ar-Rahman membeberkan perlakuan kurang ajar sipir penjara terhadap al-Quran.

Rahman yang asal Pakistan mengungkapkan kasus itu saat tiba di bandara internasional Benazir Bhutto, Islamabad, Kamis (11/6). Dalam perjalanan pulang kembali ke tanah airnya, Tariq dijaga oleh lima polisi Inggris dan ditemani oleh kuasa hukum Tariq di London, Amjad Malik.

Ia mengatakan melihat sipir penjara berulang kali melakukan penodaan terhadap al-Quran. "Ketika kami membaca Quran, mereka datang dengan membawa anjing penjaga dan membiarkan anjing itu mengendus-endus Quran. Kami menangis dan meminta agar mereka tidak melakukan itu. Tapi mereka bilang, itu tugas mereka," kata Rahman.

Rahman dan sejumlah mahasiswa Muslim yang ditangkap dengan tuduhan merencanakan serangan teroris di Inggris memang sempat mendekam di tahanan. Karena tuduhan tidak terbukti, Rahman dan mahasiswa Muslim lainnya dibebaskan.

Polisi Inggris menuai kecaman atas operasi penangkapan itu dan dinilai tidak melakukan perbuatan yang memalukan karena telah menuduh tanpa bisa membuktikannya.

Rahman adalah mahasiswa pertama yang dibebaskan. Selain menodai Quran, Rahman mengatakan bahwa para sipir penjara juga melakukan tindakan sewenang-wenang terhadap dirinya. "Kami dimasukkan ke dalam sel khusus untuk pelaku kejahatan berat. Sipir penjara memperlakukan kami layaknya seperti penjahat bukan sebagai tertuduh," ujar Rahman

Pengakuan Rhaman dibenarkan oleh kuasa hukumnya Amjad Malik. Menurut Malik, para sipir penjara juga menyuruh para kuasa hukum dan keluarga para mahasiswa membuka baju untuk penggeledahan saat mereka menjenguk ke penjara.

Begitu tiba di Pakistan, Rahman langsung bersujud dengan air mata bercucuran. Duda tiga anak itu langsung dibawa ke kantor Federal Investigation Authority (FIA) untuk dimintai keterangan. Salah seorang petugas FIA menyatakan bahwa Rahman tidak akan ditahan. Kuasa hukum Rahman meminta aparat hukum Pakistan tidak mengenakan tuduhan apapun pada kliennya itu.

Keberadaan Rahman di Inggris untuk melanjutkan studi S2-nya. Ia mengaku sangat trauma dengan apa yang dialaminya di Inggris. "Saya baru melihat lagi langit terbuka setelah 62 hari. Maaf kalau saya tidak bisa menjawab semua pertanyaan Anda, karena saya masih trauma," kata Rahman pada para wartawan.

Kepulangannya ke tanah air disambut dengan pelukan oleh kerabat dan teman-temannya. Setelah penangkapannya di Inggris, Rahman menerima tawaran dari kementerian dalam negeri Inggris agar ia dengan suka rela meninggalkan Inggris dan sebagai kompensasinya, pemerintah Inggris mencabut perintah deportasi terhadap Rahman.

"Rahman sebenarnya masih bisa tinggal di Inggris, tapi ia memilih pulang sebagai bentuk protes atas perlakuan di penjara polisi Inggris," kata kuasa hukum Rahman.

"Saya tidak mau hidup di negara yang katanya beradab, tapi justru banyak melakukan pelanggaran hak asasi manusia yang paling buruk atas nama keamanan negara. Saya tidak mau kembali ke sana (Inggris)" tandas Rahman. (ln/iol)---(Sumber: www.eramuslim.com, 12/06/2009)
   

Page 1 of 2