Selamat Datang di Mujahidin.net

Rekaman dan Penyusunan Al-Qur’an

Attention: open in a new window. PDFPrintE-mail

Last Updated on Wednesday, 05 August 2009 15:34 Written by Administrator Wednesday, 17 June 2009 11:31

Sumber: The History of The Qur'anic Text - From Revelation to Compilation - Sejarah Teks Al-Quran - Dari Wahyu Sampai Kompilasinya - Prof. Dr. M.M al A'zami

1. Selama Periode Mekah

Kendati diwahyukan secara lisan, Al-Qur'an sendiri secara konsisten menyebut sebagai kitab tertulis. Ini memberi petunjuk bahwa wahyu tersebut tercatat dalam tulisan. Pada dasarnya ayat-ayat Al-Qur'an tertulis sejak awal perkembangan Islam, meski masyarakat yang baru lahir itu masih menderita berbagai permasalahan akibat kekejaman yang dilancarkan oleh pihak kafir Quraish. Berikut cerita `Umar bin al-Khattab sejak ia masuk Islam yang akan kita pakai sebagai penjelasan masalah ini:

Selanjutnya...>>>

 

Cairan Ajaib Air Susu Ibu (Mukjizat Al-Qur’an)

Attention: open in a new window. PDFPrintE-mail

Last Updated on Wednesday, 05 August 2009 15:40 Written by Administrator Tuesday, 16 June 2009 16:58

Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar. Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapanya;  ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah  kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu. (QS. Luqman, 31:13-14)

Selanjutnya...>>>

 

Pengajaran Al-Qur’an Masa Nabi

Attention: open in a new window. PDFPrintE-mail

Last Updated on Wednesday, 05 August 2009 15:36 Written by Administrator Wednesday, 17 June 2009 11:08

Sumber: The History of The Qur'anic Text - From Revelation to Compilation - Sejarah Teks Al-Quran - Dari Wahyu Sampai Kompilasinya - Prof. Dr. M.M al A'zami

Ayat pertama yang diwahyukan pada Nabi Muhammad adalah, "Bacalah atas nama Tuhanmu yang telah menciptakan."1  Tak ada bukti bahwa Nabi Muhammad pernah belajar seni menulis dan umumnya orang sepakat bahwa ia buta huruf sepanjang hayat. Sepotong ayat di atas memberi isyarat bukan tentang persoalan buta huruf, melainkan penting­nya pendidikan yang sehat bagi masyarakat di masa mendatang. Nabi Muhammad mencurahkan segala upaya yang mungkin dapat dilakukan dalam pengembangan pendidikan, manfaat serta imbalan para pelajar dan juga sanksi hukum bagi pengekang ilmu pengetahuan. Abu Huraira melaporkan bahwa Nabi Muhammad pernah bersabda, "Siapa yang memilih jalan pencarian ilmu pengetahuan, Allah akan membuka baginya jalan menuju surga."2 Sebaliknya beliau memberi peringatan, "Siapa yang ditanya ilmu yang telah dikuasai lalu ia sembunyikan, orang itu akan dililit api neraka di hari Kiamat."3

Selanjutnya...>>>

   

Pertemuan Islam dan Demokrasi

Attention: open in a new window. PDFPrintE-mail

Last Updated on Sunday, 01 November 2009 17:20 Written by Administrator Tuesday, 16 June 2009 11:27

Judul  : Demokrasi Religius: Pemikiran Politik Nurcholish Madjid dan M. Amien Rais
Penulis : Drs. Idris Thaha, M.Si.
Pengantar : Prof. Dr. Azyumardi Azra, M.A.
Penerbit : Teraju Mizan, Cetakan I, Februari 2005
Halaman : xi + 356
 

Hingga saat ini memang masih banyak orang yang mempertentangkan antara demokrasi dan Islam, karena adanya pemikiran bahwa demokrasi berarti pengakuan akan adanya kedaulatan rakyat (manusia), sedangkan di dalam Islam yang ada hanyalah kedaulatan Tuhan.

Sementara mereka yang tidak mempertentangkan berpendapat bahwa Tuhan memang memiliki kedaulatan yang mutlak, tapi kedaulatan Tuhan di bumi telah diwakilkan kepada manusia dan dengan sendirinya manusia memiliki kedaulatan untuk menjalankan aturan dan hukum Tuhan di bumi.

Kenyataannya memang ada keunikan dan perbedaan antara Islam dan demokrasi yang lahir dari sistem sosial budaya barat. Namun dalam beberapa level, baik demokrasi maupun Islam dapat sejalan. Demikian salah satu kesimpulan yang terurai dalam buku Demokrasi Religius: Pemikiran Politik Nurchlolish Madjid dan M. Amien Rais karya Idris Thaha.

Menurut penulis buku ini, sebenarnya tidak perlu dipertentangkan mengenai perbedaan itu dan lebih baik mencari hal baik yang bisa dijalankan dan membuang hal-hal yang tidak baik. Ada hal yang bernilai universal baik dalam Islam maupun demokrasi. Islam dapat diterima oleh berbagai bangsa di dunia karena memiliki nilai-nilai universal itu, begitu juga yang terjadi dengan demokrasi. Pada hal-hal yang universal inilah dua sistem tersebut dapat bertemu dan sejalan. Jika ada hal-hal negatif di dalam demokrasi berarti itu tidak perlu kita ambil. Demikian pikiran utama yang terekam dengan baik dalam bab satu satu buku ini. Selain itu, penulis juga secara objektif memunculkan pendapat-pendapat dan tokoh-tokoh yang pro dan kontra antara Islam dan demokrasi.

Dalam prinsip demokrasi, yang harus dilakukan adalah negosiasi dan kompromi untuk mencari cara yang terbaik. Dalam sejarah Islam pun, khilafah ideal itu hanya ada pada zaman Rasulullah SAW dan sebagian masa Khulafaur Rasyidin yang tidak lebih dari masa tiga puluh tahun. Setelah itu dalam masa tujuh abad kejayaan Islam, motif yang ada adalah motif kekuasaan.

Dalam masyarakat plural, seperti Indonesia, perbincangan mengenai relasi antara agama dan demokrasi merupakan tema yang selalu menarik dan tak ada habis-habisnya untuk didiskusikan. Cita-cita mewujudkan demokrasi hampir selalu menyinggung agama dan keragaman budaya, karena demokrasi tidak mungkin bisa diwujudkan tanpa menempatkan agama secara benar dan memberikan apresiasi terhadap keragaman budaya.

Jika tidak dikelola dengan baik, bukan mustahil persinggungan agama-agama akan mendatangkan masalah bagi stabilitas demokrasi. Munculnya sebagian nama pejuang demokrasi (baca:demokrasi religius) seperti Cak Nur mewakili HMI dan kultur NU beserta Amien Rais mewakili Muhammadiyah telah memberikan kontribusi yang sangat besar sehingga umat Islam Indonesia dapat menerima demokrasi.

Pembaca akan diajak oleh penulis buku ini dengan bahasa yang enak dibaca membahas pemikiran almarhum Cak Nur dan Amien Rais tentang hubungan Islam dan demokrasi yang perlu diwujudkan di Indonesia. Hampir tidak ada yang di antara kita yang meragukan kredibilitas kedua tokoh ini dalam mengemukakan gagasan dan polemik politiknya bagi kelangsungan hubungan Islam dan demokrasi di Indonesia.

Bagi keduanya, Islam dan demokrasi tidak memiliki potensi untuk saling berbenturan. Keserasian Islam dan demorasi dapat dilihat dalam pemikiran Cak Nur dan Amien Rais yang dirujukkan kepada ajaran-ajaran Islam dan kriteria-kriteria umum demokrasi. Pemikiran keduanya secara utuh dapat dilihat dalam bab tiga dan lima buku ini. Misalnya, soal keterlibatan partisipasi masyarakat, pemenuhan kebebasan, penegakkan hukum, perwujudan keadilan sosial, peningkatan mutu pendidikan, dan pembentukan masyarakat madani bagi masyarakat Indoensia.

Esensi demokrasi kompatibel dengan Islam dan Islam perlu menyumbangkan nilai-nilai etika dan moral bagi perwujudan demokrasi religius. Cak Nur dan Amien Rais berhasil menunjukkan secara elegan bagaimana pelembagaan nilai-nilai spiritual Islam ke wilayah politik praktis. Pada akhirnya, keduanya menjadi contoh par exellence bagi apa yang disebut dalam buku ini sebagai demokrasi religius.

Konsekwensi logis penegakan sistem demokrasi religius adalah dijadikannya suara dan kehendak rakyat sebagai parameter legalitas pemerintahan yang tanpanya pemerintahan religius tidak akan berdiri. Tetapi di sisi lain, tidak semua kehendak rakyat bisa mewujudkan sebuah pemerintahan yang sejalan kehendak agama.

Akhir kalam, semua agama besar dunia saat ini merasakan semakin hilangnya nilai-nilai spiritual dalam kehidupan umat manusia di dunia. Sehingga dialog antar peradaban bisa menjadi jembatan untuk mengisi kekosongan tersebut. Bukankah agama mengalami kejumudan saat berhenti belajar dan berdialog dengan peradaban lain? Sekarang saatnya untuk merevitalisasi persenyawaan agama dengan berbagai realitas yang mengitarinya.

 

Yesus Mengaku Utusan Tuhan

Attention: open in a new window. PDFPrintE-mail

Last Updated on Monday, 29 June 2009 14:28 Written by Administrator Tuesday, 16 June 2009 15:08

Yohanes 5:30 “Aku tidak dapat berbuat apa-apa dari diriku sendiri; Aku menghakimi sesuai dengan apa yang aku dengar, dan penghakiman-Ku adil, sebab aku tidak menuruti kehendak-Ku sendiri, melainkan kehendak Dia yang mengutus Aku”.

Lukas 10:16 “Barangsiapa mendengarkan kamu, ia mendengarkan Aku; dan barang siapa menolak kamu, ia menolak Aku,; dan barangsiapa menolak Aku, ia menolak Dia yang mengutus Aku.”

Markus 9:37 “Siapa menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku. Dan barangsiapa menyambut Aku, bukan Aku yang disambutnya, tetapi Dia yang mengutus Aku.”

Matius 10:40 “Barangsiapa menyambut kamu, ia menyambut Aku, dan barang siapa menyambut Aku, ia menyambut Dia yang mengutus Aku “.

Catatan: Keempat injil semuanya menulis pengakuan Yesus bahwa dia itu hanya seorang utusan Tuhan atau Rasul Tuhan.  Bahkan masih banyak ayat-ayat lain di dalam Alkitab itu sendiri, dimana Yesus mengaku bahwa dia hanya sebagai seorang utusan Tuhan. Yesus mengaku dengan jujur dan polos, bahwa dia hanyalah seorang utusan Tuhan, rasul Tuhan.

Umat Islam menjadikan Yesus sebagai utusan Tuhan atau rasul Tuhan sebagaimana pengakuan Yesus yang tertulis dalam Alkitab. Sementara semua umat Kristen menjadikan Yesus sebagai Tuhan yang disembah. Ini membuktikan bahwa umtat Islamlah yang mematuhi ajaran Yesus.

Perhatikan pengakuanYesus sendiri, bahwa dia hanya seorang utusan Tuhan, menurut Alkitab dari berbagai bahaa-bahasa daerah sbb:

Bukti lain bahwa Yesus benar-benar hanya seorang utusan Tuhan, baiklah kami kutip kembali dan kami komentari masih pada ayat tersebut tadi, untuk membuktikan pengakuan Yesus sendiri bahwa dia bukanlal Tuhan dan juga bukan Allah, tetapi hanya benar-benar hanya seorang utusan Tuhan saja.

Yoh  50:30 “Aku tidak dapat berbuat apa-apa dari diri-Ku sendiri; Aku menghakimi sesuai dengan apa yang Aku dengar, dan penghakiman-Ku adil, sebab Aku tidak menuruti kehendak-Ku sendiri, melainkan kehendak  Dia yang mengutus Aku”.

Catatan: Jika Yesus itu Tuhan, sangat tidak masuk di akal sehat Tuhan tidak bisa berbuat apa-apa dari diri-Nya sendiri. Dan tidak mungkin Tuhan tidak bisa menuruti kehendak-Nya sendiri. Yang namanya Tuhan, pasti Dia Maha Kuasa, jadi Dia bisa berbuat menurut kehendak-Nya sendiri. Yesus mengaku dengan jujur dan polos bahwa dia tidak bisa berbuat apa-apa atas dirinya sendiridan tidak bisa menuruti kehendaknya sendiri, karena dia hanya seorang utusan Tuhan, bukan Tuhan!!

1. Setiap yang diutus Tuhan, pasti bukan Tuhan.
2. Yesus diutus oleh Tuhan , berarti...........
3. Yesus bukan Tuhan, tetapi hanya utusan Tuhan.
4. Setiap yang tidak bisa berbuat apa-apa atas didinya sendiri, pasti bukan Tuhan.
5. Yesus tidak bisa berbuat apa-apa atas dirinya sendiri, berarti Yesus bukan Tuhan.
6. Setiap yang tidak bisa menuruti kehendaknya sendiri, pasti bukan Tuhan.
7. Yesus tidak bisa menuruti kehendaknya sendiri, berarti Yesus bukan Tuhan.

Di dalam Al Qur’an yang Allah wahyukan kembali kepada nabiMuhammad Saw, Yesus (nabi Isa as) juga mengatakan bahwa dia hanyalah seorang utusan Tuhan atau rasul Tuhan, bahkan hanya untuk bani Israil saja, bukan untuk seluruh dunia.

Dan Allah akan mengajarkan kepadanya Al Kitab, Hikmah, Taurat dan Injil. Dan (sebagai) Rasul kepada Bani Israil (yang berkata kepada mereka): "Sesungguhnya aku telah datang kepadamu dengan membawa sesuatu tanda (mukjizat) dari Tuhanmu, yaitu aku membuat untuk kamu dari tanah berbentuk burung; kemudian aku meniupnya, maka ia menjadi seekor burung dengan seizin Allah; dan aku menyembuhkan orang yang buta sejak dari lahirnya dan orang yang berpenyakit sopak; dan aku menghidupkan orang mati dengan seizin Allah; dan aku kabarkan kepadamu apa yang kamu makan dan apa yang kamu simpan di rumahmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu adalah suatu tanda (kebenaran kerasulanku) bagimu, jika kamu sungguh-sungguh beriman. (Qs. 3 Ali Imran 48-49).

Isa tidak lain hanyalah seorang hamba yang Kami berikan kepadanya nikmat (kenabian) dan Kami jadikan dia sebagai tanda bukti (kekuasaan Allah) untuk Bani lsrail. (Qs. 43 Az-Zukhruf 59) .

Dan (ingatlah) ketika Isa ibnu Maryam berkata: "Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab sebelumku, yaitu Taurat, dan memberi khabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad)." Maka tatkala rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata: "Ini adalah sihir yang nyata." (Qs. 61 Ash-Shaff 6).

Keterangan : Ada juga sebagian orang yang membantah bahwa yang disebut oleh Al Qur’an Qs 61 Ash Shaff ayat 6 adalah AHMAD, bukan MUHAMMAD. Hal ini kami jelaskan, menurut Hadist Rasulullah Saw, disebutkan bahwa beliau punya beberapa nama panggilan, sebagaiman hadis sbb: “Sesungguhnya aku memeiliki beberapa nama: Aku adalah Muhammad, dan aku adalah Ahmad , dan aku adalah Al Maahi ( penghapus) karena kekufuran dihancurkan olehku. Aku adalah Al-Haasyir dimana orang ramai di kumpulkan setelah masaku. Aku adalah Al Aaqib karena tidak ada lagi nabi penutup setelahku.” (HR. Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Ahmad, Malik)
   

Page 9 of 11